Showing posts with label Alfred Riedl. Show all posts
Showing posts with label Alfred Riedl. Show all posts

Wednesday, July 13, 2011

PSSI Pecat Alfred Riedl

Alfred Riedl
Kabar mengejutkan datang dari PSSI perihal pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl. Pria Austria itu dinyatakan PSSI bukan lagi pelatih tim nasional Indonesia. Disebutkan bahwa selama ini yang mengontrak Riedl bukanlah PSSI.

Demikian dikatakan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin kepada wartawan di kantornya di kompleks Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (13/7/2011), terkait masa depan timnas Indonesia yang akan menghadapi Turkmenistan di babak kualifikasi Piala Dunia 2014.

"Kita sudah tidak pakai Riedl lagi sejak besok, karena manajer sudah diganti," ujar Djohar.

Saat ditanya alasannya, ia mengatakan bahwa tidak ada kejelasan kontrak pelatih yang membawa Indonesia ke final Piala AFF 2010 itu.

"Dia bukan dikontrak dengan PSSI. Kita cari-cari kontraknya, tidak ada, Kontraknya tidak jelas. Nanti lah," sahut Djohar.

Ia menambahkan, pemutusan kerja sama itu bukan dikarenakan Riedl disebut-sebut pro ke status quo dalam kemelut PSSI sejak awal tahun ini. Gosipnya, selama ini urusan kontrak Riedl untuk timnas Indonesia diurus oleh wakil ketua umum PSSI sebelumnya, Nirwan Bakrie.

Sumber : Detiksport
Selengkapnya...

Thursday, January 20, 2011

Pencoretan Irfan Bachdim Dinilai Diskriminasi

Irfan Bachdim
Tidak ada nama Irfan Bachdim dalam skuad Timnas Indonesia U-23 yang diproyeksikan untuk pra olimpiade dan SEA Games. Banyak pecinta bola tanah air yang menyayangkan alasan pencoretan ini karena Irfan Bachdim bermain di LPI. Publik menganggap Riedl melakukan diskriminasi terhadap pemain sepak bola yang bermain di LPI.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Demokrat, I Gede Pasek Suardika, menilai ada diskriminasi yang dilakukan dalam proses seleksi pemain sepak bola tim nasional Indonesia. Gede menilai bahwa diskriminasi itu terjadi terutama terhadap pemain sepak bola yang bermain di Liga Primer Indonesia (LPI).

Gede menilai alasan pelatih tim nasional, Alfred Riedl, menolak Irfan Bachdim masuk dalam tim tak dapat diterima. "Saya mendengar penjelasan mengenai Irfan (Bachdim) tak bisa masuk timnas karena bermain di LPI. Riedl sudah melanggar undang-undang kita," katanya saat menyampaikan pendapat dalam Rapat Kerja Komisi X dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga kemarin.

Menurut penilaian Gede, Riedl bisa menolak Irfan jika memang dia menganggap bahwa penyerang Persema Malang itu tak memiliki kemampuan seperti yang diharapkan. "Prinsip olahraga sudah dilanggar," katanya. Dengan membuat keputusan seperti itu, Gede menyatakan bahwa sudah seharusnya Riedl mendapatkan teguran ataupun sanksi. "Apalagi untuk urusan timnas memakai APBN, lebih baik kita tidak juara tapi sportif daripada sebaliknya," ujarnya.


Sedangkan Djamal, anggota Komisi X lain dari Fraksi Hanura, mengatakan keputusan PSSI tidak memasukkan pemain-pemain yang berlaga dalam LPI adalah melanggar hak warga negara. "Ada hak rakyat yang hilang di sini," katanya saat ditemui seusai rapat. Menurut Djamal, pencoretan Irfan sangat disayangkan. "Karena keberadaan dia, bagaimanapun, bisa menjadi penarik minat masyarakat untuk mendukung sepak bola," katanya.

Karena itu, Djamal berharap agar permasalahan yang berkaitan dengan penyelenggaraan LPI sudah seharusnya mendapat penyelesaian. "Ini harus bisa cepat selesai," katanya. Dia berharap, siapa pun yang terlibat atau berkaitan dengan masalah ini harus berupaya sekuat tenaga mencari jalan keluar.

Selain itu, Djamal menyayangkan tindakan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga, yang sepertinya tidak memiliki kuasa untuk membela para pemain sepak bola yang terhalang masuk tim nasional. "Seharusnya ada langkah-langkah cepat yang bisa dilakukan, kok sepertinya semua orang bisa dikalahkan oleh Nurdin Halid," katanya.

Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng menyatakan, pihaknya akan berupaya menjembatani dua kubu yang berkonflik, PSSI dengan penyelenggara LPI. Dia menegaskan, perihal adanya kemungkinan sanksi FIFA yang bisa dijatuhkan akibat masalah ini merupakan wewenang PSSI. "Itu kita serahkan kembali kepada PSSI," katanya.

Menurut Andi, yang lebih penting adalah bagaimana bisa tercipta kesepahaman antara kedua belah pihak. "Yang penting duduk bersama dulu, LPI menjelaskan apa visi misi mereka untuk sepak bola dan apa syarat dari PSSI agar LPI bisa diterima," katanya.

Sumber : Tempo
Selengkapnya...

Tuesday, December 21, 2010

Cerita Cangkok Ginjal Alfred Riedl

Bermuka dingin dan jarang tersenyum begitulah mungkin penilaian banyak orang terhadap pelatih Timnas Alfred Riedl. Tapi muka jutek Riedl tidak membuat fans-nya takut malah dia begitu dicintai yang membuat penggemarnya di Vietnam rela memberikan ginjalnya untuk sang pelatih.

Riedl adalah salah satu pelatih Vietnam yang berhasil membawa negeri itu ke era kejayaan sepakbola Asia Tenggara. Riedl begitu dicintai rakyat Vietnam berkat prestasi kerjanya selama enam tahun.

Tapi cerita mengharukan terjadi ketika Riedl mengumumkan akan melakukan operasi cangkok ginjal sekitar tahun 2006. Begitu rencana operasi cangkok ginjal diumumkan, puluhan penggemar dari berbagai kalangan berbondong-bondong menawarkan diri sebagai donor gijal.

Saat melatih Vietnam, Riedl memang sudah punya masalah ginjal. Pelatih asal Austria tersebut harus melakukan dialisis atau cuci darah hingga 3 kali seminggu karena ginjalnya sudah tidak berfungsi.

Kelainan ginjal tersebut sudah dialami Riedl selama 12 tahun dan makin memburuk justru saat ia dibutuhkan oleh Timnas Vietnam. Beruntung ia punya banyak penggemar setia yang tak ingin tim asuhannya gagal di Piala Asia 2007. Seperti dikutip Dailymail, donor ginjalnya tak lain adalah seorang supporter fanatik di negeri Paman Ho tersebut.

Operasi pencangkokan lalu dilakukan di Wina Austria. Ia hampir kehilangan nyawa jika tidak segera mendapatkan donor ginjal. Para calon donor itu ada yang berprofesi sebagai pegawai bank, sopir truk, pedagang dan bahkan ada yang datang dari kalangan biksu atau biarawan. Semua hanya punya satu keinginan, Riedl cepat sembuh dan kembali menangani Timnas kesayangannya.

"Saya rela mendonorkan ginjal agar saya dan Riedl sama-sama mendapatkan karma yang baik," ungkap Dong Phap, biksu berusia 32 tahun dari Provinsi Phu Tho yang ketika itu juga berminat menjadi donor.

Namun rupanya tidak mudah untuk mendapatkan ginjal yang sesuai dengan kebutuhan Riedl. Kendala yang paling banyak menggagalkan niat baik para calon donor adalah ketidaksesuaian ukuran ginjal dan golongan darah dengan yang dibutuhkan oleh Riedl.

Operasi pencangkokan baru bisa dilakukan pada Maret 2007, hanya beberapa bulan sebelum turnamen Piala Asia digelar pada Juli 2007. Identitas donor dirahasiakan, namun situs AFC menyebut Riedl mendapatkan ginjal tersebut dari seorang penggemar di Vietnam.

Sang pelatih Riedl pun akhirnya bisa sehat kembali, tapi sayang dia harus meninggalkan Vietnam karena dianggap gagal membawa skuad Under 23-nya yang kalah adu penalti dari Myanmar di babak semifinal SEA Games XXIV tahun 2007. Riedl sempat menjadi pelatih Laos dan kini ia menangani timnas Indonesia
Selengkapnya...