Ketua Komite Normalisasi PSSI Agum Gumelar menegaskan bahwa sudah melaksanakan perintah FIFA yaitu untuk saat ini Liga Primer Indonesia sudah berada di bawah naungan PSSI.
Hadirnya liga sempalan yang sempat membuat kisruh sepak bola nasional itu dianggap FIFA menyalahi aturan dan harus segera dirangkul atau jika tidak bisa, segera dihentikan.
Agum merasa opsi kedua yang diperintahkan FIFA tidak bijak dilaksanakan, karenanya ia memilih opsi pertama.
"Kami laporkan ketegasan kami dalam menjalankan misi kedua kami soal LPI. LPI sudah berada di bawah naungan PSSI, di bawah supervisi PSSI. Pilihan itu kami ambil dengan mempertimbangkan segala aspeknya,” ujarnya usai menemui ketua umum KON/KOI Rita Subowo di kantor KON/KOI, Senayan, Jumat (15/4/11).
Dengan demikian, para pemain yang berkompetisi di LPI punya peluang lagi mengikuti seleksi Timnas Indonesia. Sebelumnya mereka dilarang karena aturan FIFA memang melarang pemain yang berlaga pada kompetisi di luar naungan asosiasi untuk memperkuat timnas.
Namun Agum menegaskan, masalah hukum yang sudah dijatuhkan Komite Eksekutif terdahulu kepada klub yang menyeberang ke LPI serta pencabutan lisensi terhadap perangkat pertandingan dan lainnya belum diputihkan karena menanti terbentuknya Komite Banding organisasi.
Sumber : Detiksport
Selengkapnya...
Showing posts with label Komite Normalisasi. Show all posts
Showing posts with label Komite Normalisasi. Show all posts
Saturday, April 16, 2011
Friday, April 15, 2011
Pertemuan PSSI di Hotel Sultan Dikonversi Jadi Kongres
Pertemuan di Hotel Sultan tanggal 14 April 2011 yang semula cuma diagendakan sebagai diskusi, akhirnya diputuskan dikonversi menjadi kongres yang membentuk Komite Pemilihan dan Komite Banding.
Perubahan agenda pertemuan tersebut, menurut Komite Normalisasi Agum Gumelar, terjadi setelah banyak masukan dari peserta, yang berjumlah 101 pemilik hak suara.
"Sebagai ketua Komite Nornalisasi saya menyetujui sikap bersama yang telah diambil untuk menyatakan bahwa pertemuan ini dikonversi menjadi kongres," demikian Agum seusai kongres, Kamis (14/4/2011) sore WIB.
Dalam kongres "dadakan" ini dibentuk dan disahkan Komite Pemilihan dan Komite Banding, plus ditunjuk tim yang akan membuat draft electoral code atau peraturan organisasi (PO) untuk kongres pemilihan ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota Komite Eksekutif PSSI pada 20 Mei.
"Komite Pemilihan dan Komite Banding harus diputuskan di dalam kongres, dan tidak bisa hanya dalam pertemuan biasa. Ini sesuai statuta FIFA. Maka dari itu hari ini pertemuan telah dijadikan kongres," sambung Agum.
Komite Pemilihan tetap diketuai Harbiasyah, seperti hasil kongres di Pekanbaru 26 Maret lalu, juga anggota-anggotanya yakni Dirk Soplanit, Mohammad Yasin, Usman Fakaubun, Hadiyandra, Wisnu Wardhana, dan Erizal Anwar. Tambahan dua anggota dari kongres hari ini adalah Sabaruddin Labamba dan Bariadi.
Komite Banding juga tidak berubah dari sebelumnya, terdiri dari Ahmad Riyadh (ketua), Rio Dinamore (anggota) dan Umuh Muchtar (anggota).
Adapun tim perumus draft kongres pemilihan atau PO adalah Yunus Nusi, Erizal Anwar, Ilham Sirajuddin, Harbiansyah, dan Ahmad Riyadh.
Draft tersebut akan dibahas dalam satu-dua hari ke depan, bersama Komite Normalisasi, lalu disebarkan ke para pemilik hak suara sebelum dikirim ke FIFA untuk disetujui.
Sumber : Detiksport
Selengkapnya...
Perubahan agenda pertemuan tersebut, menurut Komite Normalisasi Agum Gumelar, terjadi setelah banyak masukan dari peserta, yang berjumlah 101 pemilik hak suara.
"Sebagai ketua Komite Nornalisasi saya menyetujui sikap bersama yang telah diambil untuk menyatakan bahwa pertemuan ini dikonversi menjadi kongres," demikian Agum seusai kongres, Kamis (14/4/2011) sore WIB.
Dalam kongres "dadakan" ini dibentuk dan disahkan Komite Pemilihan dan Komite Banding, plus ditunjuk tim yang akan membuat draft electoral code atau peraturan organisasi (PO) untuk kongres pemilihan ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota Komite Eksekutif PSSI pada 20 Mei.
"Komite Pemilihan dan Komite Banding harus diputuskan di dalam kongres, dan tidak bisa hanya dalam pertemuan biasa. Ini sesuai statuta FIFA. Maka dari itu hari ini pertemuan telah dijadikan kongres," sambung Agum.
Komite Pemilihan tetap diketuai Harbiasyah, seperti hasil kongres di Pekanbaru 26 Maret lalu, juga anggota-anggotanya yakni Dirk Soplanit, Mohammad Yasin, Usman Fakaubun, Hadiyandra, Wisnu Wardhana, dan Erizal Anwar. Tambahan dua anggota dari kongres hari ini adalah Sabaruddin Labamba dan Bariadi.
Komite Banding juga tidak berubah dari sebelumnya, terdiri dari Ahmad Riyadh (ketua), Rio Dinamore (anggota) dan Umuh Muchtar (anggota).
Adapun tim perumus draft kongres pemilihan atau PO adalah Yunus Nusi, Erizal Anwar, Ilham Sirajuddin, Harbiansyah, dan Ahmad Riyadh.
Draft tersebut akan dibahas dalam satu-dua hari ke depan, bersama Komite Normalisasi, lalu disebarkan ke para pemilik hak suara sebelum dikirim ke FIFA untuk disetujui.
Sumber : Detiksport
Selengkapnya...
Labels:
Ketua Umum PSSI,
Komite Normalisasi,
PSSI
Tuesday, April 05, 2011
FIFA Akhirnya Ambil Alih Exco PSSI
FIFA merilis keputusan resmi melalui situsnya perihal kisruh di tubuh PSSI. Dalam situs resminya, FIFA dengan tegas menyatakan mengambilalih Komite Eksekutif PSSI saat ini. Akan dibentuk Komite Normalisasi yang mengambilalih tugas Komite Eksekutif PSSI.
"Menyusul kejadian yang berkaitan dengan Federasi Sepakbola Indonesia (PSSI), Komite Darurat FIFA telah memutuskan pada 1 April 2011 bahwa, mengacu pada pasal 7 paragraf 2 pada Statuta FIFA, Komite Normalisasi akan mengambilalih Komite Eksekutif PSSI saat ini," demikian tulis FIFA dalam situs resminya.
Dalam statemen tersebut juga, FIFA mengatakan bahwa kepemimpinan PSSI saat ini gagal mengontrol pesepakbolaan Indonesia dengan baik. Sebagai contoh, adalah munculnya Liga Primer Indonesia sebagai liga selain Liga Indonesia.
"Komite Darurat FIFA memperkirakan bahwa kepemimpinan PSSI saat ini tak memiliki kontrol terhadap sepakbola di Indonesiayang terlihat dari gagalnya mengontrol liga tandingan (Liga Primer, LPI) yang terbentuk tanpa campur-tangan PSSI atau dari fakta bahwa mereka tak bisa mengorganisir kongres yang mana tujuannya adalah untuk mengadopsi electoral code dan membentuk Komite Pemilihan."
"Komite Darurat FIFA datang dengan kesumpulan bahwa kepemimpinan PSSI telah kehilangan kredibilitas di Indonesia sendiri dan sudah tak berada dalam posisi lagi untuk memimpin proses pemecahan krisis ini."
Statemen tersebut juga mengungkapkan tugas dari Komite Normalisasi, di antaranya menyelenggarakan pemilihan berdasarkan electoral code FIFA dan statuta PSSI sebelum 21 Mei 2011. Komite Normalisasi ini nantinya akan terdiri dari insan sepakbola Indonesia yang tidak akan bisa duduk dalam sebuah posisi di PSSI.
LPI juga mendapatkan keputusan dari FIFA. Mereka menyebut, LPI hendaknya segera berada di bawah naungan PSSI atau FIFA meminta PSSI menghentikan liga itu sesegera mungkin.
Terakhir, FIFA juga mengonfirmasi bahwa empat calon yang sebelumnya berniat bertarung untuk pemilihan Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, George Toisutta dan Arifin Panigoro tak bisa dicalonkan menjadi Ketua Umum PSSI 2011-2015.
"Misi dari Komite Normalisasi adalah: untuk menyelenggarakan pemilihan yang berdasarkan electoral code FIFA dan statuta PSSI sebelum 21 Mei 2011; untuk membuat liga tandingan berada di bawah kontrol PSSI atau menghentikannya sesegera mungkin; untuk menjalankan kegiatan sehari-hari PSSI di bawah spirit rekonsiliasi demi kebaikan sepakbola Indonesia."
"Komite Normalisasi terdiri dari dari insan sepakbola Indonesia yang tidak akan bisa duduk dalam sebuah posisi di PSSI dan akan bertugas sebagai Komisi Pemilihan. Juga dikonfirmasikan, ketidaksahan dari empat kandidat yang mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PSSI, yang mana keempatnya telah ditolak oleh Komite Banding PSSI pada 28 Februari 2011."
Dengan munculnya statemen ini, FIFA dengan tegas sudah menyatakan bahwa PSSI sudah tak kredibel lagi untuk mengelola persepakbolaan di Indonesia.
Sumber : Detiksport.com
Selengkapnya...
"Menyusul kejadian yang berkaitan dengan Federasi Sepakbola Indonesia (PSSI), Komite Darurat FIFA telah memutuskan pada 1 April 2011 bahwa, mengacu pada pasal 7 paragraf 2 pada Statuta FIFA, Komite Normalisasi akan mengambilalih Komite Eksekutif PSSI saat ini," demikian tulis FIFA dalam situs resminya.
Dalam statemen tersebut juga, FIFA mengatakan bahwa kepemimpinan PSSI saat ini gagal mengontrol pesepakbolaan Indonesia dengan baik. Sebagai contoh, adalah munculnya Liga Primer Indonesia sebagai liga selain Liga Indonesia.
"Komite Darurat FIFA memperkirakan bahwa kepemimpinan PSSI saat ini tak memiliki kontrol terhadap sepakbola di Indonesiayang terlihat dari gagalnya mengontrol liga tandingan (Liga Primer, LPI) yang terbentuk tanpa campur-tangan PSSI atau dari fakta bahwa mereka tak bisa mengorganisir kongres yang mana tujuannya adalah untuk mengadopsi electoral code dan membentuk Komite Pemilihan."
"Komite Darurat FIFA datang dengan kesumpulan bahwa kepemimpinan PSSI telah kehilangan kredibilitas di Indonesia sendiri dan sudah tak berada dalam posisi lagi untuk memimpin proses pemecahan krisis ini."
Statemen tersebut juga mengungkapkan tugas dari Komite Normalisasi, di antaranya menyelenggarakan pemilihan berdasarkan electoral code FIFA dan statuta PSSI sebelum 21 Mei 2011. Komite Normalisasi ini nantinya akan terdiri dari insan sepakbola Indonesia yang tidak akan bisa duduk dalam sebuah posisi di PSSI.
LPI juga mendapatkan keputusan dari FIFA. Mereka menyebut, LPI hendaknya segera berada di bawah naungan PSSI atau FIFA meminta PSSI menghentikan liga itu sesegera mungkin.
Terakhir, FIFA juga mengonfirmasi bahwa empat calon yang sebelumnya berniat bertarung untuk pemilihan Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, George Toisutta dan Arifin Panigoro tak bisa dicalonkan menjadi Ketua Umum PSSI 2011-2015.
"Misi dari Komite Normalisasi adalah: untuk menyelenggarakan pemilihan yang berdasarkan electoral code FIFA dan statuta PSSI sebelum 21 Mei 2011; untuk membuat liga tandingan berada di bawah kontrol PSSI atau menghentikannya sesegera mungkin; untuk menjalankan kegiatan sehari-hari PSSI di bawah spirit rekonsiliasi demi kebaikan sepakbola Indonesia."
"Komite Normalisasi terdiri dari dari insan sepakbola Indonesia yang tidak akan bisa duduk dalam sebuah posisi di PSSI dan akan bertugas sebagai Komisi Pemilihan. Juga dikonfirmasikan, ketidaksahan dari empat kandidat yang mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PSSI, yang mana keempatnya telah ditolak oleh Komite Banding PSSI pada 28 Februari 2011."
Dengan munculnya statemen ini, FIFA dengan tegas sudah menyatakan bahwa PSSI sudah tak kredibel lagi untuk mengelola persepakbolaan di Indonesia.
Sumber : Detiksport.com
Selengkapnya...
Labels:
FIFA,
Kisruh PSSI,
Komite Normalisasi,
PSSI
Subscribe to:
Posts (Atom)

