Showing posts with label FIFA. Show all posts
Showing posts with label FIFA. Show all posts

Tuesday, April 05, 2011

FIFA Akhirnya Ambil Alih Exco PSSI

FIFA merilis keputusan resmi melalui situsnya perihal kisruh di tubuh PSSI. Dalam situs resminya, FIFA dengan tegas menyatakan mengambilalih Komite Eksekutif PSSI saat ini. Akan dibentuk Komite Normalisasi yang mengambilalih tugas Komite Eksekutif PSSI.

"Menyusul kejadian yang berkaitan dengan Federasi Sepakbola Indonesia (PSSI), Komite Darurat FIFA telah memutuskan pada 1 April 2011 bahwa, mengacu pada pasal 7 paragraf 2 pada Statuta FIFA, Komite Normalisasi akan mengambilalih Komite Eksekutif PSSI saat ini," demikian tulis FIFA dalam situs resminya.

Dalam statemen tersebut juga, FIFA mengatakan bahwa kepemimpinan PSSI saat ini gagal mengontrol pesepakbolaan Indonesia dengan baik. Sebagai contoh, adalah munculnya Liga Primer Indonesia sebagai liga selain Liga Indonesia.

"Komite Darurat FIFA memperkirakan bahwa kepemimpinan PSSI saat ini tak memiliki kontrol terhadap sepakbola di Indonesiayang terlihat dari gagalnya mengontrol liga tandingan (Liga Primer, LPI) yang terbentuk tanpa campur-tangan PSSI atau dari fakta bahwa mereka tak bisa mengorganisir kongres yang mana tujuannya adalah untuk mengadopsi electoral code dan membentuk Komite Pemilihan."

"Komite Darurat FIFA datang dengan kesumpulan bahwa kepemimpinan PSSI telah kehilangan kredibilitas di Indonesia sendiri dan sudah tak berada dalam posisi lagi untuk memimpin proses pemecahan krisis ini."

Statemen tersebut juga mengungkapkan tugas dari Komite Normalisasi, di antaranya menyelenggarakan pemilihan berdasarkan electoral code FIFA dan statuta PSSI sebelum 21 Mei 2011. Komite Normalisasi ini nantinya akan terdiri dari insan sepakbola Indonesia yang tidak akan bisa duduk dalam sebuah posisi di PSSI.

LPI juga mendapatkan keputusan dari FIFA. Mereka menyebut, LPI hendaknya segera berada di bawah naungan PSSI atau FIFA meminta PSSI menghentikan liga itu sesegera mungkin.

Terakhir, FIFA juga mengonfirmasi bahwa empat calon yang sebelumnya berniat bertarung untuk pemilihan Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, George Toisutta dan Arifin Panigoro tak bisa dicalonkan menjadi Ketua Umum PSSI 2011-2015.

"Misi dari Komite Normalisasi adalah: untuk menyelenggarakan pemilihan yang berdasarkan electoral code FIFA dan statuta PSSI sebelum 21 Mei 2011; untuk membuat liga tandingan berada di bawah kontrol PSSI atau menghentikannya sesegera mungkin; untuk menjalankan kegiatan sehari-hari PSSI di bawah spirit rekonsiliasi demi kebaikan sepakbola Indonesia."

"Komite Normalisasi terdiri dari dari insan sepakbola Indonesia yang tidak akan bisa duduk dalam sebuah posisi di PSSI dan akan bertugas sebagai Komisi Pemilihan. Juga dikonfirmasikan, ketidaksahan dari empat kandidat yang mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PSSI, yang mana keempatnya telah ditolak oleh Komite Banding PSSI pada 28 Februari 2011."

Dengan munculnya statemen ini, FIFA dengan tegas sudah menyatakan bahwa PSSI sudah tak kredibel lagi untuk mengelola persepakbolaan di Indonesia.

Sumber : Detiksport.com
Selengkapnya...

Saturday, March 12, 2011

Presiden FIFA Berikan Simpati untuk Gempa Jepang

Gempa dan tsunami yang menghantam Jepang Jumat 11-03-2011 mengguncang dunia termasuk dunia sepakbola. Presiden FIFA Sepp Blater selaku pemimpin otoritas sepakbola tertinggi dunia turut memberikan simpati kepada segenap rakyat Negeri Sakura.

Beberapa jam setelah peristiwa gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang disusul tsunami memakan korban hingga ribuan warga pesisir Jepang, Blatter langsung mengirimkan pesan menyampaikan rasa simpatinya yang mendalam kepada warga dan juga federasi sepakbola Jepang, terutama sang Presiden, Junji Ogura.

“Saya sangat terpukul mendengar kabar tragedi mengerikan di negara Anda dan saya ingin mengucapkan rasa simpati saya yang dalam kepada seluruh warga Jepang,” tutur Blatter dalam suratnya seperti dikutip Goal, Sabtu (12/3/2011).

“Mewakili FIFA, saya berharap bisa memperluas dukungan moral dan kami semua selalu berada bersama korban tewas, yang cedera beserta keluarga mereka,” tandas Blatter.

Atas insiden ini, pihak federasi sepakbola Jepang sendiri langsung mengambil tindakan dengan menunda kompetisi utama Jepang J-League, sebagai tanda duka bagi negara yang Januari lalu tampil sebagai kampiun Piala Asia 2010 ini.

Sumber : okezone.com
Selengkapnya...

Friday, March 11, 2011

Inilah Keputusan Resmi FIFA Masalah Indonesia

FIFA sudah merilis keputusan resmi terkait permasalah di PSSI yang tengah menjadi polemik. Ini untuk menjelaskan adanya kesimpangsiuran informasi yang beredar di Indonesia.

Meski baru berbentuk rilis dan bukan surat keputusan resmi, komunike FIFA yang mereka cantumkan di situs resminya adalah bukti tertulis pertama yang ada perihal sengkarut yang terjadi di PSSI.

Seperti diketahui, selama ini publik hanya mendapat informasi yang berbentuk lisan, seperti dari Dubes Indonesia di Swiss, Djoko Soesilo, Ketua Umum KON/KOI Rita Subowo, atau bantahan dari Sekjen PSSI Nugraha Besoes.

Berikut adalah terjemahan dari rilis FIFA yang tercantum di situs resminya tertanggal 10 Maret 2011:

"Situasi yang terjadi di PSSI telah didiskusikan selama sidang Komite Asosiasi FIFA yang digelar di Zurich pada 1 Maret dan pada sidang Komite Eksekutif FIFA yang digelar di Zurich pada 3 Maret.

Komite Eksekutif FIFA telah membuat keputusan sebagai berikut:
"PSSI harus menggelar Sidang Umum pada 26 Maret 2011 untuk memilih anggota Komite Pemilihan dan menyusun kode pemilihan (electoral code) berdasarkan pada electoral code standar FIFA. Komite Pemilihan akan menyelenggarakan pemilihan sebelum 30 April 2011."

Sebagai tambahan, jika PSSI tidak mampu mengambil alih kendali atas liga yang memisahkan diri, kasus ini akan diajukan ke Komite Eksekutif FIFA yang bisa menimbulkan skorsing."

Komite Eksekutif juga telah mengakui keputusan Komite Banding PSSI yang telah menganulir pencalonan empat kandidat Ketua Umum PSSI.

Presiden FIFA, Sekjen FIFA dan Direktur Asosiasi FIFA telah bertemu dengan perwakilan PSSI pada Senin 7 Maret dan Dubes RI di Swiss serta Ketua KOI Indonesia pada Selasa 8 Maret di Zurich di markas FIFA. Mereka menjelaskan keputusan Komite Eksekutif FIFA selama pertemuan itu. Tidak ada keputusan baru atau aksi baru yang diputuskan di pertemuan-pertemuan itu."

Selengkapnya...

Wednesday, March 09, 2011

FIFA Minta PSSI Rangkul LPI, Bukan Diberi Sanksi

FIFA sudah menegaskan sikapnya terkait keberadaan Liga Primer Indonesia (LPI). Mereka meminta PSSI untuk merangkul liga gagasan pengusaha Arifin Panigoro tersebut, bukan malah menjatuhkan sanksi.

Dalam pernyataan resmi yang dilansir pada Kamis (3/3/2011), FIFA menyebutkan PSSI harus mengambil kendali atas bergulirnya LPI. FIFA berharap LPI tak berjalan tanpa koordinasi dengan PSSI. Hal ini tentu berbeda dengan pernyataan yang selama ini dilontarkan oleh PSSI, yang menyebut FIFA mendorong PSSI untuk menjatuhkan sanksi kepada seluruh elemen yang terlibat dalam LPI.

Dalam pertemuannya dengan Duta Besar RI untuk Swiss, Djoko Susilo, Presiden FIFA Sepp Blatter kembali menyinggung soal LPI. Sikap FIFA pun masih sama, yakni meminta PSSI untuk merangkul LPI.

Jadi penyelesaiannya harus komprehensif. Maksudnya LPI harus di bawah kendali PSSI. Diharapkan supaya sesudah pembentukan pengurus baru, diberi waktu sekitar satu bulan (sampai sekitar akhir Mei), untuk membenahi agar liga-liga itu tetap dikontrol oleh PSSI.

FIFA berharap PSSI harus duduk bersama dengan LPI supaya tidak di-suspend. Kalau tidak bisa dikontrol, nanti kita bisa di-suspend oleh FIFA. Tapi memang pengurus PSSI yang sekarang memelintir apa yang telah dinyatakan oleh FIFA, sehingga malah FIFA mendorong PSSI untuk memberikan sanksi kepada LPI jelas ini keputusan PSSI tidak benar dan ada unsur sentimen politis.
Selengkapnya...

Tuesday, March 08, 2011

Penyempurnaan Teknologi Garis Gawang

Banyak kalangan menilai perlunya teknologi garis gawang yang bisa menentukan apakah bola sudah melewati garis gawang apa belum dalam suatu pertandingan yang menentukan apakah telah terjadi gol. Induk sepakbola dunia FIFA belum bisa mengesahkan peraturan penggunaan teknologi di garis gawang, karena penelitian yang dilakukan belum sempurna.

International Football Association Board (IFAB), di bawah pimpinan Presiden Asosiasi Sepakbola Wales, Phil Pritchard, menggelar rapat kerja tahunan akhir pekan kemarin, di Celtic Manor Resort di Newport, Wales.

Pada kesempatan tersebut, IFAB menerima presentasi tentang penggunaan teknologi di garis gawang, yang telah diuji coba selama 7-13 Februari 2011 di markas FIFA, oleh sebuah badan penelitian dan riset yang berbasis di Swis. EMPA, nama badan riset tersebut, mengerjakan projek ini setelah terpilih dalam rapat kerja tahunan IFAB sebelumnya, tepatnya 20 Oktober tahun lalu.

Setelah presentasi, IFAB menilai uji coba yang dilakukan EMPA belum sempurna dan memutuskan penelitian penggunaan teknologi di garis gawang harus diperpanjang hingga setahun kedepan.

Penggunaan teknologi di garis gawang mencuat setelah Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Seperti diketahui, tim nasional Inggris mengalami kerugian besar saat gol Frank Lampard tak dianggap, padahal tayangan ulang jelas menampakkan bola sudah melewati garis gawang Jerman. Insiden ini terjadi saat Jerman mengalahkan Inggris di babak 16 besar.
Selengkapnya...

Monday, March 07, 2011

Kena Sanksi FIFA karena Pemain Rekayasa Luka

Chile pernah mendapat sanksi yang keras dari FIFA pada awal 1990-an. Mereka dilarang berpartisipasi dalam kualifikasi Piala Dunia 1994. Itu artinya secara otomatis hak mereka untuk tampil pada pesta sepak bola empat tahunan dicabut. Mengapa demikian?

Tentu saja sanksi itu sangat menyakitkan bagi Chile yang termasuk langganan tampil di Piala Dunia. Meski prestasinya di Piala Dunia terbilang tidak terlalu bagus, tapi mereka sudah delapan kali ikut ambil bagian di Piala Dunia.

Berbeda dengan beberapa negara lain yang disanksi karena intervensi pemerintah, regulasi yang tidak sesuai statuta FIFA, atau telat melaksanakan pergantian kepemimpinan. Sanksi yang dijatuhkan FIFA kepada Chile karena alasan yang konyol.

Penyebab Chile didiskualifikasi dari kualifikasi Piala Dunia 1990 dan dilarang berpartisipasi di kualifikasi Piala Dunia 1994 lantaran diving. Ya, insiden itu dikenal dengan sebutan skandal Roberto Rojas atau di Chile disebut Maracanazo.

Ketika itu, Chile sedang melakoni laga hidup mati melawan Brazil untuk lolos ke Piala Dunia 1990. Pertarungan di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, berlangsung alot. Brazil sudah unggul 1-0 yang artinya Chile bisa tersisih.

Pada menit ke-67, tiba-tiba kiper Chile Roberto Rojas terjengkang setelah ada lemparan kembang api yang jatuh tepat di sampingnya. Kiper yang pernah membela Sao Paulo itu terjatuh dan mengerang kesakitan. Para pemain Chile pun mendekat.

Ternyata, darah mengucur deras dari kepala Rojas. Para pemain Chile pun mulai gusar. Mereka membawa keluar Rojas dan enggan melanjutkan pertandingan. Terpaksa pertandingan ketika itu dihentikan dan pengusutan dilakukan.

Setelah melalui pengusutan dan mengumpulkan berbagai bukti, FIFA akhirnya mengambil kesimpulan bahwa Rojas tidak terkena kembang api. Parahnya lagi, diketahui bahwa dia sengaja merekayasa luka di kepala dengan cara melukai dirinya dengan silet yang disimpan di sarung tangannya.

Jadi, derasnya darah dari luka di kepalanya itu karena ulahnya sendiri dengan motif agar pertandingan terhenti. Insiden itu benar-benar membuat FIFA berang. "Sepak bola telah tercederai oleh ulah-ulah tidak sportif," ujar Andreas Herren, juru bicara FIFA saat itu, seperti dikutip Reuters.

Akibat insiden itu, Rojas dihukum seumur hidup dan Chile dilarang tampil di Piala Dunia 1994. Bukan hanya itu, beberapa orang yang dianggap punya andil juga kena getah. Pelatih Chile Orlando Aravena dan dokter tim Daniel Rodriguez juga dihukum seumur hidup tidak boleh aktif di sepak bola.

Bahkan, izin kerja Rodriguez sebagai dokter dicabut gara-gara insiden itu. Penyebabnya, dia diyakini mengetahui luka di kepala itu karena ulah Rojas sendiri. Adapun kapten Chile Fernando Astengo yang mengajak rekan-rekannya keluar lapagnan dihukum lima tahun dari sepak bola internasional.

Sumber : JPNN
Selengkapnya...

Inilah Negara yang Pernah Diskors FIFA

FIFA termasuk organisasi olahraga yang digdaya yang tidak bisa diusik oleh siapapun. Otoritas sepakbola dunia itu memiliki independensi yang tidak bisa ditentang pihak manapun. Negara yang tidak menjalankan statuta FIFA dan ada intervensi dari pemerintah akan terkena sanksi.

Prancis malu besar dalam Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (Afsel). Les Bleus -sebutan timnas Prancis- finish sebagai juru kunci di grup A setelah mencatat sekali seri dan dua kali kalah. Tidak hanya itu, striker Nicolas Anelka dipulangkan setelah laga kedua karena bertengkar dengan pelatih Raymond Domenech.

Efeknya, jelang laga terakhir grup melawan Afsel, para pemain yang dimotori kapten tim Patrice Evra menggelar aksi boikot latihan sebagai bentuk solidaritas kepada Anelka. Raihan jeblok yang dibumbui aksi boikot pemain tak pelak memicu reaksi di Negeri Anggur itu.

Kepulangan Evra dkk disambut dengan permintaan Menteri Olahraga Roselyne Bachelot agar FIFA mencekal Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) untuk sementara waktu. Bachelot mengungkapkannya karena ingin mereformasi kepengurusan FFF sekaligus menyelidiki kasus boikot pemain.

Sikap Bachelot, yang kabarnya atas permintaan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, tentu saja membuat FIFA meradang karena merasa independensi anggotanya, FFF, diobok-obok. FIFA pun mengancam bakal menskors partisipasi Prancis di level sepak bola internasional apabila pemerintah Prancis ikut campur dalam urusan internal FFF.

Apalagi dengan Presiden FFF Jean-Pierre Escalettes mundur dari jabatannya seusai kegagalan Les Blues di Piala Dunia 2010. "Saya orang Prancis dan mencintai negara saya. Tapi, saya tidak mendukung pemerintah (Prancis) terhadap FFF. Jika diteruskan, FIFA akan melawan," ungkap Jerome Valcke, sekum FIFA, kepada Jawa Pos di Stadion Soccer City, Johannesburg, di tengah perhelatan Piala Dunia 2010.

Warning FIFA membuat pemerintah Prancis menjauh ketika reformasi dalam tubuh FFF berjalan. Awal Februari lalu, pelatih Les Bleus Laurent Blanc menolak rencana menteri olahraga Prancis yang baru, Chantal Jouanno, untuk memperpanjang skors provokator boikot pemain di Piala Dunia 2010. Di antaranya Evra, Franck Ribery, dan Jeremy Toulalan.

"Sebagai pelatih timnas, saya sepenuhnya memiliki kebebasan menentukan pemain. Di egara demokrasi, setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya. Tapi, itu juga berarti setiap orang juga berhak untuk tidak menyampaikan pendapat orang lain," papar Blanc.

Prancis masih beruntung dibandingkan beberapa negara yang federasi sepak bola negaranya diskors karena intervensi pemerintah. Kasus Prancis mirip dengan Nigeria. Instruksi Presiden Nigeria Goodluck Jonathan membekukan federasi sepak bola negaranya setelah gagal total di Piala Dunia 2010 berbuah skors dari FIFA. Namun, skors itu hanya berlangsung tidak sampai sepekan setelah sang presiden menarik instruksinya.

Yang paling parah adalah Brunei Darussalam. Keputusan Sultan Brunei membentuk kepengurusan baru federasi sepak bola di negaranya pada Desember 2008 berbuah skors dari FIFA setahun kemudian. Sampai sekarang, Brunei yang prestasi sepak bolanya memang jalan di tempat masih dalam skors. Bahkan ada sinyalemen apabila negara tetangga Indonesia itu diskors sampai Juni 2013.

Kasus Brunei pun menambah daftar negara korban skors FIFA. Dalam lima tahun terakhir, sedikitnya 14 negara yang federasi sepak bolanya dinonaktifkan. Kebanyakan memang karena adanya campur tangan pemerintah di negara masing-masing.

Tapi, ada sejumlah kasus skors oleh FIFA bukan karena intervensi pemerintah. Di antaranya skors kepada Australia pada 1960 karena pendekatan pemain ilegal (untuk dinaturalisasi) dan skors kepada Afsel karena politik apartheid alias diskriminasi warna kulit. (dns)

Negara Korban Skors FIFA

Negara Lama Skors Alasan
Australia 196 0-April 1963 Pendekatan pemain ilegal
Afsel 26 September 1961-Januari 1963 Regulasi apartheid
Oktober 1964-1976 Politik apartheid
Bangladesh 11 Januari-12 Februari 2002 Intervensi pemerintah
Kenya Juni-Agustu s 2004 Intervensi pemerintah
25 Oktober 2006-9 Maret 2007 Intervensi pemerintah
Yaman 12 Agustus-13 November 2005 Intervensi pemerintah
Yunani 3-7 Juli 2006 Tidak patuhi statuta FIFA
Iran 22 November-17 Desember 2006 Telat gelar kongres federasi
Kuwait 30 Oktober-15 November 2007 Intervensi pemerintah
24 Oktober-22 Desember 2008 Telat gelar kongres federasi
Iraq 26 Mei 2008-29 Mei 2008 Niat pemerintah bubarkan federasi
20 November 2009-Maret 2010 Intervensi pemerintah
Madagaskar 19 Maret-19 Mei 2008 Pemerintah skors presiden federasi
Chad 29 Maret-7 Mei 2008 Intervensi pemerintah
Ethiopia Juni-Nove mber 2008 Intervensi pemerintah
Peru 24 November-20 Desember 2008 Intervensi pemerintah
Zambia 19-24 Maret 2009 Intervensi pemerintah
Brunei September 2009- Intervensi pemerintah
Nigeria 4-8 Oktober 2010 Intervensi pemerintah

Sumber : JPNN
Selengkapnya...

FIFA Resmi Melarang Pemakaian Snoods

Samir Nasri
Seperti telah diberitakan sebelumnya bahwa Liga Inggris sudah melarang penggunaan snoods atau syal bagi pemain sepakbola. Sekarang giliran FIFA yang resmi melarang pemakaian snoods mulai musim depan. Jadi pro dan kontra tentang pemakaian snoods telah berakhir.

Aksesori yang tren karena dikenakan bintang Premier League seperti Carlos Tevez, Mario Balotelli, Yaya Toure, Marouane Chamakh, dan Samir Nasri itu dilarang beredar musim depan. Terhitung sejak 1 Juli 2011, FIFA resmi mencekalnya.

Keputusan FIFA menindaklanjuti hasil sidang badan pembuat aturan sepak bola (IFAB) di Newport, Wales, akhir pekan lalu (5/3). FIFA mencekalnya karena snood dianggap membahayakan pemain yang mengenakannya ketika ditarik pemain lawan.

"Snood bukan bagian dari kostum (sepak bola) dan sangat berbahaya karena seperti mencekik seseorang. Keputusan kami sudah bulat," kata Presiden FIFA Sepp Blatter sebagaimana dilansir Reuters.

Blatter menambahkan apabila untuk menangkal cuaca dingin, khususnya di negara-negara Eropa pada periode Desember sampai Januari, pemain bisa bergantung pada aksesori lain selain snood. Salah satunya sarung tangan dan itu sudah dilegalkan FIFA. "Saya pernah menjadi pemain di kala musim dingin maupun musim panas dan saya tidak pernah mengenakan aksesori seperti itu. Kita harus lebih memperhatikan aturan," imbuhnya.

Dalam sidang di Wales, IFAB menggunakan pasal 4 tentang perlengkapan pemain sepak bola di lapangan sebagai alasan mencekal snood. Pasal 4 berbunyi : "Seorang pemain tidak diperbolehkan memakai peralatan atau mengenakan apapun yang bisa membahayakan dirinya maupun pemain lain."

Selain itu, IFAB menganggap snood bisa mengalihkan perhatian para pengadil lapangan (wasit dan asistennya) maupun tim lawan karena warnanya terkadang tidak senada dengan warna kostum. Selama ini, snood yang beredar berwarna hitam.

Sebelumnya, snood menuai pro kontra di Inggris. Pelatih Arsenal Arsene Wenger mengatakan, nood bukan hanya menangkal cuaca dingin, apalagi sekadar gaya-gayaan di lapangan. Snood juga menghindari risiko cedera tulang leher.

Tapi, arsitek United Sir Alex Ferguson menyindir snood tak lebih dari alat rias. Ferguson juga menyebut hanya pemain banci yang mengenakannya. Karena itu, Ferguson melarang pemain United mengenakannya dan hanya membolehkan sarung tangan sebagai satu-satunya aksesori penangkal cuaca dingin.

Selain mencekal snood, sidang IFAB di Wales menghasilk apabila penggunaan teknologi di garis gawang ditunda sampai tahun depan. IFAB juga mendukung UEFA untuk menempatkan dua asisten wasit tambahan di belakang gawang pada Euro 2012 di Polandia-Ukraina.
Selengkapnya...

Thursday, January 27, 2011

Kiprah Wasit Wanita di Sepakbola International

Sian Massey
Ungkapan yang menyebutkan olahraga sepakbola hanya untuk pria agaknya akan segera hilang seiring dengan hadirnya wanita yang berkiprah sebagai pemain maupun wasit.

Sejak lama olahraga sepakbola begitu erat dikaitkan dengan gender tertentu yaitu pria. Hal itu tak lepas dari tingginya tingkat persaingan, permainan keras, dan sikap emosional yang kerap kali membumbui jalannya pertandingan.

Situasi itu jelas berbeda dengan sikap wanita pada umumnya yang identik dengan sikap ramah dan lemah lembut.

Selain itu dari segi jumlah organ intim, tubuh wanita dianggap lebih banyak dibandingkan pria, hal itu menjadi pertimbangan tertentu saat memberi kesempatan bagi seorang wanita memimpin jalannya pertandingan di tengah para pemain pria.

Pasalnya olahraga sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang mengutamakan body contact. Kondisi itu tak ayal kian meminggirkan wanita dalam kancah pesepakbolaa internasional.

Akan tetapi, masa-masa itu telah berlalu karena kini sepakbola mulai ramah dengan kaum hawa. Situasi ini ditandai pada 1991 ketika untuk pertama kalinya Piala Dunia sepakbola wanita digulirkan. Ajang ini sekaligus menjadi tonggak awal keberadaaan wanita dalam kancah pesepakbolaan internasional.

Seiring berjalannya waktu, wanita tidak hanya menjadi pemain melainkan menjadi pengadil lapangan alias wasit. Kiprah itu dicatatkan untuk pertama kali oleh Wendy Toms saat terpilih menjadi hakim garis dalam pertandingan di Liga Inggris pada awal 1990an silam.

Wendy Toms

Akan tetapi untuk urusan wanita sebagai wasit utama, jawabannya akan merujuk kepada Amy Fearn saat ia memimpin jalannya pertandingan Coventry City kontra Nottingham Forest di ajang kompetisi Divisi Championships, Inggris.

Terpilihnya Fearn sebagai wasit wanita pertama yang memimpin jalannya pertandingan cukup menarik, karena ia baru terpilih pada menit ke-70 ketika wasit utama Tony Bates cedera betis.

Kendati hanya berlabel sebagai wasit cadangan, nyatanya Fearn mampu menjalankan tugasnya dengan baik ketika memimpin jalannya pertandingan hingga selesai tanpa masalah.

Kesempatan yang diperoleh Fearn tak pelak menginspirasi wasit wanita di belahan dunia lainnya. Salah satunya ialah Estela Alvarez. Nama Alvarez terpilih sebagai wasit yang memimpin jalannya liga Argentina.

Karier pertama Alvarez sebagai wasit utama saat ia memimpin pertandingan San Martin de San Juan melawan Comision de Actividades Infantiles di kompetisi Primera B Nacional.

Selain Fearn dan Alvarez, masih ada banyak wanita-wanita lainnya yang juga mulai menjajal menjadi wasit di pesepakbolaan internasional, baik sebagai wasit utama maupun asisten wasit.

Berikut perempuan-perempuan yang pernah berkiprah sebagai wasit:

1. Liga Inggris (Divisi Championships)

Amy Fearn

Amy Fearn saat memimpin jalannya pertandingan Coventry City vs Nottingham Forest

2. Liga Argentina (Primera B)

Estela Alvarez

Estela Alvarez. Alvarez menjadi wasit pertama di liga Argentina setelah terpilih memimpin pertandingan San Martin de San Juan vs Comision de Actividades Infantiles

3. Liga Jerman (Divisi 2)

Bibiana Steinhaus

Bibiana Steinhaus. Nama Steinhaus sebagai wasit wanita mencuat menyusul pemberitaan saat salah satu organ intimnya tersentuh tanpa sengaja oleh bek Hertha Berlin Pieter Niemeyer saat ia memimpin pertandingan Hertha Berlin vs Alemannia Aachen.

4. Liga Peru

Silvia Reyes

Silvia Reyes. Sebagai pengadil lapangan yang berasal dari kalangan wanita, Reyes sempat mendapatkan tindakan diskriminasi saat striker San martin Leguizamon menghinanya dengan aksen berbau seks selepas dikartu merah Reyes pada pertandingan Deportivo San Martin vs Alianza Atletico.

5. Liga Meksiko

Virginia Tovar

Virginia Tovar. Debut Tovar sebagai pemimpin pertandingan cukup kontroversi, karena ia mengganjar dua kartu merah saat ia memimpin pertandingan Irapuato vs America.

6. Liga Inggris (Liga Premier)

Sian Massey

Sian Massey. Untuk yang satu ini, nama Massey belakangan tengah hangat diperbincangkan kala ia diejek oleh dua komentator SkySports kala ia menjadi hakim garis saat pertandingan Wolverhamton vs Liverpool.

Sumber : inilah.com
Selengkapnya...

Friday, January 21, 2011

Timnas Indonesia Dipuji FIFA

Timnas Indonesia
Penampilan yang ditunjukkan timnas Indonesia di piala AFF lalu mendapat apresiasi dari FIFA. Meskipun gagal menjadi juara performa yang bagus yang ditunjukkan timnas Indonesia mendapat penilaian yang tinggi dengan bukti peringkat Indonesia di ranking dunia meningkat secara signifikan.

FIFA memberikan pujian kepada tim nasional Indonesia. Tim Merah Putih disebut sebagai tim dari kawasan Asia yang berhasil meraih kenaikan peringkat secara signifikan.

Pujian FIFA itu tercantum melalui tulisan berjudul berjudul "Indonesia keep on rising" yang dipublikasikan di situs resmi otoritas tertinggi sepakbola dunia tersebut, tertanggal 20 Januari 2011.

"Dengan kondisi di mana kebanyakan tim nasional tidak aktif selama periode tahun baru, maka hanya sedikit perbahan di FIFA/Coca-Cola World Ranking. Meski begitu, kenaikan Indonesia secara konsisten di peringkat dunia telah membuat publik tercengang dalam dua bulan terakhir," demikian tertulis dalam artikel tersebut.

FIFA menyebutkan bahwa kenaikan secara signifikan tersebut dipicu oleh performa anak asuh Alfred Riedl di Piala AFF 2010 Desember silam. Memang tim Merah Putih gagal juara, namun Firman Utina dkk. berhasil menunjukkan performa yang bagus.

Otoritas tertinggi sepakbola dunia itu juga menyebut bahwa Indonesia merupakan negara di kawasan Asia yang menunjukkan kenaikan ranking secara signifikan.

"Menduduki posisi 135 di dunia dan ke-20 di Asia di bulan November, Indonesia naik delapan tingkat dan itu menjadikan mereka sebagai negara dari Asia dengan pergerakan terbaik, sebelum akhirnya naik satu tingkat ke urutan 126 di awal tahun 2011," demikian FIFA.

Sumber : Detiksport
Selengkapnya...